menu Home chevron_right
Berita Madina

Madina Dicoret dari Daftar Penerima Dana Bencana Rp10 Triliun

Redaksi | 22 Mei 2026

Kabupaten Madina dicoret dari daftar alokasi dana bencana Rp10 triliun dari Presiden Prabowo. Di tengah krisis anggaran ini, Bupati Saipullah Nasution membakar semangat santri Roihanul Jannah 2026 untuk bangkit memimpin pemulihan daerah secara mandiri.

LSM, StartNews – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution secara mengejutkan mengatakan Kabupaten Madina bersama Kabupaten Toba dicoret dari daftar alokasi dana Transfer Keuangan Daerah (TKD) pascabencana senilai Rp10 triliun yang disiapkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Saipullah mengungkapkan hal itu di hadapan ratusan santri, guru, dan orangtua dalam acara kelulusan Pondok Pesantren Roihanul Jannah, Kelurahan Pasar Maga, Lembah Sorik Marapi (LSM), Kamis (21/5/2026).

Padahal, dana raksasa dari pemerintah pusat tersebut dikucurkan khusus untuk membantu pemulihan wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana.

Absennya Madina dari daftar penerima dana tersebut menjadi pukulan telak bagi agenda rekonstruksi infrastruktur daerah yang rusak. Namun, alih-alih meratapi nasib koridor anggaran yang pincang, Saipullah justru menggunakan momentum ini untuk membakar semangat para lulusan pesantren agar menjadi motor penggerak pembangunan yang mandiri.

Ketiadaan dukungan dana pusat ini secara otomatis mempersempit ruang gerak fiskal Pemkab Madina, termasuk berimbas pada belum maksimalnya bantuan yang bisa diberikan pemerintah daerah untuk pengembangan pondok pesantren saat ini.

Realitas pelik inilah yang melatarbelakangi seruan Bupati Saipullah agar para santri tidak cengeng dan segera mempersiapkan diri ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi demi membawa solusi bagi tanah kelahiran mereka.

Saipullah menegaskan kunci keluar dari krisis dan keterpurukan ini berada di tangan generasi muda yang kompeten. Madina membutuhkan pemikir-pemikir baru yang memiliki ilmu pengetahuan mumpuni untuk mengelola kekayaan Bumi Gordang Sambilan secara mandiri, tanpa harus selalu bergantung pada belas kasihan atau uluran tangan pemerintah pusat.

“Dengan tidak dikembalikannya TKD itu, Madina tidak dapat membangun pasca bencana dengan baik. Meskipun demikian, jadikan ini motivasi untuk membangun Madina secara bersama,” tegas Saipullah di hadapan para wisudawan.

Situasi darurat akibat minimnya anggaran pascabencana ini menuntut para santri untuk berpikir kreatif dan memperluas jaringan mereka.

Untuk menyiasati keterbatasan dana daerah, Saipullah mendorong para lulusan agar jeli memanfaatkan relasi dengan para perantau asal Madina yang telah sukses di tingkat nasional demi membuka ruang-ruang kesempatan serta kolaborasi baru demi kemajuan daerah.

Visi besar untuk bangkit dari keterbatasan ini diperkuat dengan peringatan agar para santri tidak cepat berpuas diri dengan status kelulusan mereka hari ini. Penguasaan ilmu pengetahuan dan pengelolaan sumber daya alam lokal secara mandiri merupakan benteng pertahanan terakhir agar Madina tidak didominasi oleh pihak asing di tengah rapuhnya sokongan finansial dari pusat.

“Jangan cepat merasa puas telah lulus dari Ponpes Roihanul Jannah. Perbanyak ilmu, kelola sumber daya alam dengan baik. Jangan biarkan orang luar berkuasa di Madina. Kalianlah generasi penerus bangsa ini,” pesan bupati.

Kegiatan itu juga dihadiri Pj. Sekda Madina Afrizal Nasution dan Plt. Kadis Kominfo Syail Lubis.

Reporter: Sir

Komentar Anda

komentar

Written by Redaksi

Comments

This post currently has no comments.

Leave a Reply


Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses


  • Acara Saat Ini
  • Acara Akan Datang



  • play_circle_filled

    Streaming StArt 102.6 FM Panyabungan

play_arrow skip_previous skip_next volume_down
playlist_play