Ancaman Ganda Hidrometeorologi, Bobby Nasution Warning 19 Daerah di Sumut, Termasuk Madina
Medan, StartNews – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution menginstruksikan seluruh kepala daerah di 19 kabupaten dan kota, termasuk Kabupaten Mandailing Natal (Madina), untuk segera meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman ganda bencana hidrometeorologi yang diprediksi berlangsung sepanjang Juni hingga Agustus 2026.
Pemprov Sumut kini tidak hanya fokus pada mitigasi banjir dan tanah longsor akibat sisa intensitas hujan, melainkan juga bersiap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) seiring masuknya puncak musim kemarau yang ekstrem pada Agustus mendatang. Perubahan cuaca yang fluktuatif ini menuntut skema mitigasi yang lebih dinamis dari setiap pemerintah daerah.
Melalui Surat Instruksi nomor 188.54/6/INST/2026 yang diterbitkan pada Minggu (19/7/2026), Bobby Nasution mengatakan daerah-daerah yang pernah luluh lantak akibat bencana serupa pada tahun 2025 harus menjadi prioritas penanganan. Kesiapsiagaan ini bersifat mendesak demi menghindari jatuhnya korban jiwa dan kerugian materiil yang lebih besar.
“Khusus kepada 19 Kabupaten/Kota yang terdampak banjir dan tanah longsor pada tahun 2025 agar lebih meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana serupa,” tulis Bobby Nasution dalam surat edaran tersebut.
Dalam instruksi tertulisnya, Bobby memaparkan analisis zonasi risiko penanganan. Untuk periode Juli ini, wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah masuk dalam kategori risiko tinggi. Sementara 18 wilayah lain termasuk Madina, Batubara, Dairi, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu Selatan, Padanglawas, Padanglawas Utara, Samosir, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Toba, dan Kota Padangsidimpuan berada pada kategori rendah hingga menengah dengan curah hujan berkisar antara 51 hingga 200 mm.
Meskipun status sebagian besar daerah berada pada kategori rendah-menengah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengingatkan adanya anomali cuaca, karena fase transisi atau pancaroba. Di satu sisi hujan lebat masih mengguyur akibat fenomena alam, tetapi di sisi lain cuaca terik mulai membayangi.
“Saat ini kita masuk musim pancaroba ya, dimana transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Diprediksi itu puncaknya Agustus untuk musim kemarau. Tapi memang, saat ini hujan masih terus melanda di Sumut,” ujar Tuahta, Minggu (19/7/2026).
Menyikapi ancaman musim panas yang akan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang, Tuahta juga meminta seluruh BPBD di tingkat kabupaten dan kota untuk menyiagakan alat berat dan logistik secara penuh.
Dia juga mengimbau masyarakat agar mengubah perilaku yang memicu bencana sekunder, seperti menghentikan kebiasaan membakar sampah di area dekat hutan pada siang hari guna mencegah kebakaran lahan terbuka.
Berdasarkan data teknis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan, tingginya curah hujan yang terjadi belakangan ini dipicu fenomena Antisiklon atau pusat tekanan udara tinggi di Samudera Hindia Barat Sumut.
Prakirawan BBMKG Wilayah I Medan Ilham Haris menjelaskan, aktivitas Gelombang Kelvin dan suhu permukaan laut yang hangat turut mempercepat penumpukan uap air dan pembentukan awan konvektif secara masif. Kondisi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat ini diperkirakan masih bertahan di sebagian besar wilayah Sumut hingga beberapa hari kedepan.
Reporter: Sir

Comments
This post currently has no comments.