Kampanye Terbuka Dimulai

Pojok Redaksi – Kampanye terbuka atau rapat umum sesuai jadwal telah dimulai sejak Minggu (24/3) hingga 13 April men­datang. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga S. Uno. Mereka melakukan kampanye di tempat yang berbeda.

Joko Widodo memulai kampanyenya di Banten sementara Prabowo di Sulawesi Selatan, sementara Sandiaga berkampanye di Sragen, Jawa Tengah.

Jokowi dalam kampanyenya memperkenalkan tiga con­toh kartu untuk masyarakat Indonesia, yaitu Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kuliah Prakerja dan Kartu Sembako Murah. Tiga kartu ini akan ‘dikeluarkan’ jika nanti Jokowi dan Ma’ruf Amin terpilih menjadi presiden dan wakil presiden men­datang. Sementara Cawapres  KH Ma’ruf Amin meng­gelar doa bersama di Pondok Pesantren Annawawi, Tanara, Serang Banten.

Kampanye Akbar Capres Prabowo Subianto dilaksana­kan di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia menjanjikan perubahan dan perjuangan agar kekayaan Indonesia kembali ke tangan rakyat.

Bahkan ia mengkritisi kebijakan impor yang dilakukan pemerintah saat ini. Bila dia terpilih, Prabowo berjanji tidak akan melakukan impor bila tidak terpaksa. Sementara Sandi, dalam kampanye yang dikemas dalam kegiatan “Young Enterpreneur Summit (YES) 2019”. Dikatakan Sandi, misi yang ingin dibawa pada kam­panye dengan melibatkan generasi milenial, yaitu Indonesia yang menang dan Indonesia yang adil makmur.

Kampanye terbuka yang hanya memakan waktu lebih kurang 21 hari ini memang harus dimaksimalkan oleh para Capres dan Cawapres untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada para pemilih. Tentu saja kampanye ini juga harus dikemas oleh masing-masing tim dengan cara-cara yang berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Hal ini untuk lebih memudahkan mensosialisasikan program-program yang akan direncanakan oleh dua pasangan kan­didatnya. Diharapkan kampanye yang mereka lakukan untuk mengukuhkan pilihan terhadap mereka. Bukan sebaliknya membuat angka-angka statistik mereka turun karena program yang mereka tawarkan.

Bagi Jokowi memang lebih mudah menjelaskan keberhasilan-keberhasilan yang telah dilakukannya dibanding dengan Prabowo yang belum mempunyai ‘hasil’ yang bisa diperlihatkan, karena itu paling tidak Prabowo melakukan janji politik agar masyarakat mau memilih dirinya sebagai presiden.

Sementara bagi Cawapres KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga S. Uno tentu saja karena me­re­ka belum memiliki pengalaman sebagai Cawapres namun bukan berarti mereka tidak memberikan kontribusi yang besar kepada pasangannya. Boleh jadi, jika orang tidak berkenan memilih Capres karena memang keduanya sudah pernah bersaing, maka Cawapres menjadi penentu dalam mengangkat elektabilitas para calon.

Di masa-masa menjelang Pemilu, memang banyak se­kali hal-hal yang rawan dimunculkan. Isu-isu tentang siapa sebenarnya Capres dan Cawapres menjadi tema sentral yang saat ini menjadi pembicaraan yang hangat di kedai-kedai kopi yang ada, serta komunitas para kaum ibu-ibu. Jika isu itu tidak benar maka akan muncul yang namanya black campaign, jelas ini sangat merugikan. Bisa saja merugikan pasangan calon atau merugikan dua pasangan calon ini.

Oleh karena itu masyarakat harus mampu memahami kondisi ini. Jangan membagi informasi yang belum tentu benar keberadaannya kepada orang lain, karena boleh jadi ini adalah fitnah dan hoaks.

Pesan maupun imbauan tetap diintensifkan terhadap mereka yang menyebarkan hoaks dan fitnah untuk segera berhenti. Karena apa yang telah mereka lakukan, tidak saja merugikan calon presiden dan wakil presiden tetapi juga merugikan masyarakat karena munculnya berita-berita bohong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran­nya.

Kecerdasan masyarakat saat ini dipertaruhkan, apakah mereka cerdas melihat situasi yang sekarang ini terjadi atau tidak. Karena bila tidak cerdas mereka akan terombang-ambing dengan informasi yang sifatnya menjelek-jelekkan orang lain.

Oleh karena itu, kesempatan berkomunikasi dengan rakyat harus tetap dilakukan oleh dua pasangan calon presiden dan wakil presiden ini, agar masyarakat mampu memahami apa yang terjadi saat ini, apakah mengalami kenaikan dan kemakmuran di tengah-tengah masyarakat atau sebaliknya.

Dari sini kita akan mendapatkan informasi yang benar untuk memilih salah satu dari pasangan dua calon yang ada. Mudah-mudahan kampanye terbuka atau rapat umum bisa memperkuat keinginan yang ada atau menjadi solusi bagi para calon pemilih yang sampai saat ini belum mempunyai pilihannya. Semoga!

 

Sumber : harian.analisadaily.com

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi