Manajemen Berbasis Masjid (Management Based Mosque)

Manajemen Berbasis Masjid (Management Based Mosque)

Oleh Sunarji Harahap, M.M

Mengingat betapa pentingnya keberadaan masjid dan Imam masjid dan betapa besar tanggungjawab yang diembannya, Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna tentunya memiliki pemikiran tentang konsep manajemen. Begitu pentingnya bidang manajemen dalam hal kehidupan ekonomi maka Islam telah menetapkan bagaimana proses manajemen yang sebenarnya, karena banyak orang beranggapan bahwa pemikiran sempit tentang arti sebenarnya dari manajemen.

stilah Manajemen atau Idarah adalah suatu keadaan timbal balik, berusaha supaya menaati peraturan yang telah ada. Idarah dalam pengertian umum adalah segala usaha, tindakan dan kegiatan manusia yang berhubungan dengan perencanan dan pengendalian segala sesuatu secara tepat guna.

Asal penemuan ilmu management itu bermula dari timbulnya berbagai macam persoalan yang berhubungan dengan bisnis sehingga berkembang menjadi sebuah ilmu untuk mencapai berbagai macam tujuan.

Dalam pandangan Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran Islam. Rasulullah. Bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Thabrani, ”Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat waktu, terarah, jelas dan tuntas). Arah pekerjaan yang jelas, landasan yang mantap, dan cara mendapatkannya yang transparan merupakan amal perbuatan yang dicintai oleh Allah. Sebenarnya, manajemen dalam arti mengatur segala sesuatu agar dilakukan dengan baik, cepat, dan tuntas merupakan hal yang disyariatkan dalam ajaran Islam.

Fungsi manajemen terikat dengan hukum-hukum syara’ (syariat Islam). Fungsi manajemen sebagaimana kita ketahui ada empat yang utama, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pergerakan/pengarahan (actuating), dan pengawasan (controlling) sesuai dengan syariat islam. Oleh karena itu, aplikasi manajemen organisasi perusahaan hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi perusahaan yang bersangkutan.

Embrio pendidikan dalam perspektif manajemen Islam adalah Masjid. Manajemen yang berbasis masjid adalah manajemen yang dijiwai oleh nilai dan semangat spiritual, semangat berjamaah, semangat ihlas lillahi ta’ala (ihlas karena Allah) dan semangat memberi yang hanya berharap pada ridha Allah SWT. Proses pembelajaran yang integratif dengan masjid memberikan nuansa religius yang kental dalam penanaman nilai-nilai religius maupun praktek langsung pengalaman beragama. Dimulai dari pembiasaan shalat sunah, shalat dzuhur berjamaah dan  shalat ashar berjamaah bagi yang  full day school.

Sampai saat ini pun, sebagian besar institusi pendidikan Islam itu mempunyai masjid atau mushalah yang menjadi pusat kegiatan spiritual pelajar maupun pengajar. Kata kuncinya menjadi bagaimana mengaplikasikan konsep manajemen masjid kepada institusi pendidikan Islam.

visi dan nilai manajemen ideal yang bersumber dari praktik-praktik manajemen  Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, sangat perlu dan harus terus digali, disebarkan dan ditradisikan agar menjadi isu kuat dalam mencerahkan paradigma umat termasuk dalam hal berpolitik dalam kancah suksesi kepemimpinannya. Oleh karena itu, manajemen yang baik sangat mutlak dibutuhkan oleh umat, dan tentunya pemimpin masa depan yang diharapkan tampil adalah pemimpin yang memiliki sifat-sifat atau karakter terpuji, yakni yang berpihak pada kebenaran, keadilan, memiliki sifat amanah, jujur, keteladanan, kesederhanaan, kebesaran jiwa, pemaaf, dan lain-lainnya yang mementingkan kemaslahatan bagi umat manusia. Karenanya, pemimpin membutuhkan arahan (taujih) dan latihan sejak dini, bisa didapatkan dari orang tua, guru, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Salah satu model manajemen perspektif Islam adalah manajemen berbasis masjid, yang mana masjid adalah tempat bersatunya umat lslam dalam pelaksanaan peribadahan, baik ibadah secara vertikal kepada Allah SWT (hablum minallah) maupun ibadah yang terkait dengan sesama manusia atau yang disebut (hablum minannas). Karena itu, umat Islam wajib memakmurkan masjid, karena masjid merupakan tempat peribadatan, sarana pembinaan umat dan juga menjadi media efektif dalam mempersatukan umat Islam. Orang yang memakmurkan masjid itu adalah orang yang jelas terbukti keimanannya, dan ia hanya takut kepada Allah dan takut ancaman neraka-Nya. Allah SWT berfirman Alqur‟an surat At-Taubah ayat 18; “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. At Taubah: l8).

Berdasarkan firman Allah di atas, bahwa kriteria seorang Takmir masjid itu adalah yang memiliki beberapa komitmen sebagai berikut: 1) Iman kepada Allah (S.W.T) dan Hari akhir; 2) Tidak mempersekutukan Allah SWT;  Menegakkan shalat; 4) Menunaikan Zakat; dan 5) Independen (mandiri, istiqlal) dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah S.W.T.

Ada beberapa sifat yang harus dimiliki seseorang dalam manajemen berbasis masjid adalah:

  1. Berpengetahuan luas, kreatif, inisiatif, peka, lapang dada, dan selalu tanggap dalam hal apapun (Al Mujadilah: 11).
  2. Bertindak adil, jujur dan konsekuen (An Nisa: 58).
  3. Bertanggung jawab (Al-An’am: 164).
  4. Selektif dalam memilih informasi (Al Hujurat: 6).
  5. Memberikan peringatan (Adz-Dzariyat: 55).
  6. Memberikan petunjuk dan pengarahan ( QS As-Sajdah: 24 ).

Dengan demikian, maka masjid didirikan untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam, khususnya kebutuhan spiritual untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Masjid menjadi tambatan hati, pelabuhan pengembangan hidup dan energi kehidupan umat Islam, karena itu masjid jangan dijadikan sebagai alat untuk memecah belah umat Islam, sebagaimana intrik yang dilakukan kaum munafik dahulu dengan mendirikan masjid dhirar-nya Bahkan, masjid yang seperti itu tidak layak bagi umat Islam untuk beribadah di dalamnya. Sebagaimana pula ditegaskan Allah dalam Alqur‟an surat At-taubah ayat ke 108.

Secara khusus, masjid merupakan tempat dilangsungkannya ibadah shalat. Di sanalah tempat perjumpaan orang-orang yang patuh dan tunduk kepada aturan Allah SWT. Ia merupakan taman keimanan dan pahala,seperti yang telah dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Apabila kalian melihat seseorang yang terbiasa (memakmurkan) Masjid maka saksikanlah bahwasanya ia beriman.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi).

Di samping itu masjid juga merupakan taman ilmu, dzikir dan sarana dakwah. Rasulullah SAW Bersabda, “Tidaklah suatu kaum yang duduk di dalam suatu rumah Allah SWT, mereka membaca kitab Allah SWT dan saling mempelajarinya kecuali mereka dikelilingi para malaikat, dinaungi rahmat Allah SWT dan diturunkan kepada mereka ketenangan (sakinah) dan mereka disebutkan oleh Allah SWT termasuk orang-orang yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim).  Makna sakinah yaitu berupa ketenangan dan ketentraman jiwa yang dapat menghilangkan kegundahan, keguncangan dan penyakit hati serta menghilangkan rasa dengki (hasad atau ghill) dan takut pada selain Allah SWT.

Sejalan dengan fungsi masjid bahwa dalam masa keemasan Islam yang pertama, pemuda-pemuda dan orang-orang yang telah berumur bersama-sama duduk di masjid untuk mengikuti pendidikan, yakni pelajaran-pelajaran yang diberikan, dan di antara mereka yang telah menjadi siswa di masjid adalah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah Ibn Abbas.

Selain sebagai tempat shalat, masjid juga memiliki fungsi-fungsi lain. Di dalam masjid, jama’ah juga bermusyawarah, baik secara formal terarah, maupun secara spontan antara individu dengan individu, atau antar kelompok. Berbagai pendidikan juga terselenggara di masjid. Sebagaimana pula yang pernah terjadi di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallama ataupun 3 di masa sesudahnya, masjid menjadi pusat kegiatan kaum muslimin. Kegiatan di bidang pengetahuan, termasuk idiologi, politik, ekonomi, sosial, peradilan, dan kemiliteran didiskusikan di masjid, berfungsi pula sebagai tempat pengembangan kebudayaan Islam, terutama pada saat gedung-gedung khusus untuk kegiatan itu belum sempat didirikan. Masjid juga merupakan tempat halaqah atau diskusi, tempat mengkaji untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Dalam arti lain, bahwa masjid berfungsi sebagai sebuah manajemen yang sangat baik.

Secara empiris, tidak sedikit orang yang memberikan testimoni bahwa dengan sholat yang baik (khusyu’ dan mengikuti tata cara yang dibenarkan) banyak manfaat yang mereka alami dan rasakan. Manfaat itu bukan hanya dalam perspektif individu, namun juga perspektif organisasi dan manajemen secara lebih luas dalam kehidupan. Apalagi jika dikerjakan secara berjama’ah. Dalam Sahih al-Bukhari, hadis no. 645 disebutkan.

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً .

“Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”.

Dalam persefektif implementasi manajemen ISO, kita mengenal adanya tahapan-tahapan prinsip dalam pelaksanaanya. Yang pertama adalah Komitmen manajemen, yang merupakan salah satu dari 7 prinsip dasar ISO yakni Leadership, dan Keterlibatan semua orang . Jika kita merujuk dalam praktek sholat berjama’ah, maka pertama adanya kesamaan niat. Imam niat dengan Imaman, dan ma’mum niat dengan ma’muman. Dalam organisasi atau perusahaan, semua hirarki organisasi harus mempunyai niat yang sama, yakni untuk menegakkan kewajiban shalat sebagai bagian dari perintah agama. Jika kita analogikan dalam perusahaan, maka semua sumber daya manusia harus komitmen terhadap aturan yang di tetapkan organisasi.

Dalam konteks implementasi ISO, dikenal dengan kebijakan mutu & sasaran mutu. Yang kesemuanya itu dibungkus dalam komitmen manajemen dan biasanya ada seremenoni khusus untuk menyatakan komitmen tersebut, dimana hadir pimpinan & staff lalu menyatakan niat yang sama dan masing-masing membuktikan komitmennya dalam sebuah tanda tangan dan konsensus bersama. Kesamaan niat itulah yang menjadi perekat organisasi sehingga organisasi atau perusahaan tetap kokoh dan maju.

Selain berkaitan dengan niat, Kegiatan sholat berjama’ah juga berkaitan dengan team-work. Artinya, orang yang biasa sholat berjamaah memiliki kebiasaan hidup mengutamakan kepentingan bersama. Ini juga menyangkut komunikasi untuk kepentingan kelompok yang lebih besar, belajar komunikasi persuasif untuk mengajak orang lain melakukan kegiatan baik secara bersama. Dengan kata lain, orang yang biasa mendirikan sholat berjamaah mampu bekerja dengan baik dalam tim / team-work. Bagaimana itu bisa terjadi? Karena ia terbiasa mengutamakan kepentingan bersama melalui kebiasan sholat berjamaah itu.

Filosofi yang kedua adanya Imam, atau dalam prinsip ISO adanya Leadership. Demikian juga dalam organisasi atau perusahaan, harus ada pemimpin, yang terdiri dari direktur, manager, staff dan sebagainya. Tanpa imam, shalat berjamaah tidak bisa dilaksanakan. Untuk menjadi imam kan tidak gampang, ada syarat-syaratnya. Demikian juga pemimpin organisasi, ada syarat dan tanggung jawabnya.

Adapun yang ketiga, yaitu adanya aturan shalat berjamaah, jika kita merujuk ke 7 dasar prinsip ISO, maka terkait dengan Pendekatan System ke Management. Dalam shalat berjamaah, ada aturan dan tata caranya sehingga berjalan tertib dan sah. Bahkan, ketika imam keliru ada mekanisme untuk memperingatkannya, tanpa harus merusak jalannya shalat berjamaah. Dalam Organisasi ada Manual Mutu, SOP-nya, ada peraturan organisasi dan sebagainya.

Semua filosofi dan karakter positif di atas sangat bisa dilatih melalui sholat yang dilakukan dengan baik dan benar (khusu’, tepat waktu dan berjamaah). Karena sholat memiliki intensitas rutinitas yang tertib. Menurut konsep Mielinisasi—salah satunya diperkenalkan oleh Daniel Coyle dengan “deep practice”-nya—bahwa sel saraf otak akan membentuk Myelin (bungkus, Mielinisasi = pembungkusan) bila terjadi pengulangan (berpikir, bergerak). Semakin sering pengulangan terjadi maka mielinisasi semakin kuat. Dengan begitu, karakter-karakter positif tersebut di atas semakin melekat pada setiap pribadi yang mengerjakan sholat dengan baik dan benar, rutin dan disiplin. Begitu pula jika kita proyeksikan dalam sebuah organisasi dan perusahaan, maka sholat berjama’aah sudah pasti memiliki makna yang dalam, baik dari segi harfiah, filosofi,  dan penataan organisasi modern.

Oleh karenanya, manajemen perspektif Islam erat sekali hubungannya dengan Masjid. Masjid bermanfaat untuk tempat beribadah dan sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan berbagai pengetahuan. Selain itu, masjid juga merupakan tempat pengkaderan yang dapat melahirkan calon-calon pemimpin Islam di masa yang akan datang, sebagaimana yang dibuktikan (diterapkan) Rasulullah SAW dengan membina para sahabatnya sehingga menjadi generasi terbaik dan mampu memimpin umatnya melalui pola pembinaan-pembinaan yang beliau pusatkan di masjid.

*) Sunarji Harahap, M.M

Dosen  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...