Pembangunan Jembatan Gantung Hutarimbaru Terkendala Pembebasan Lahan

Pembangunan Jembatan Gantung Hutarimbaru Terkendala Pembebasan Lahan

Kotanopan, StartNews –Keinginan warga lima desa di seberang Batang Gadis, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk memiliki jembatan permanen yang melintasi Batang Gadis sepertinya belum dapat terwujud. Pasalnya, rencana pembangunan jembatan permanen yang digaungkan beberapa tahun terakhir masih terkendala pembebasan lahan untuk peletakan abutmen jembatan.

Padahal, keberadaan jembatan permanen bagi warga Desa Hutarimbaru, Desa Hutapadang, Desa Gunungtua, Desa Simandolan, dan Desa Aek Marian sangat mendesak. Pasalnya, selama ini ratusan orang dan kenderaan roda dua, tiga, dan empat setiap hari lalu-lalang melewati titi gantung yang sebenarnya tidak layak lagi untuk dilewati. Kondisi titi gantung ini sudah cukup parah. Sudah banyak papannya yang keropos. Besi penopang bagian bawah juga sudah tidak ada.

Informasi adanya kendala pembebasan lahan untuk peletakan abutmen rencana pembangunan jembatan tersebut disampaikan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Madina M. Ruli Andriadi melalui pesan WhatsApps ke redaksi StartNews, belum lama ini.

Setelah Tim dari Dinas PUPR Madina survei ke lapangan, didampingi masing-masing kepala desa, ditemukan adanya kendala pembebasan lahan untuk peletakan abutmen jembatan.

Untuk itu, pihaknya berharap kepada masyarakat agar sama-sama mencarikan solusi untuk pembebasan lahan peletakan abutmen tersebut. Selain itu, untuk tahun 2021 ini,  Pemkab Madina juga sudah menganggarkan biaya rehabilitiasi jembatan itu dalam APBD Perubahan tahun 2021.

Kepala Desa Hutarimbaru Rasoki Nasution yang dihubungi StartNews  pada Selasa (12/10/2021) membenarkan rencana pembangunan jembatan menuju lima desa itu memang terkendala pada pembebasan lahan untuk abutmen.

Saat Dinas PUPR Madina melakukan survei, tanah dan rumah yang di ujung jembatan memang masuk dalam lahan abutmen. Jadi, pihak Dinas PUPR mengharapkan agar tanah itu dibebaskan dulu. Terkait dengan ukuran lebar jembatan yang diukur saat itu, Rasoki mengatakan tidak ingat berapa meter persisnya. Namun, dia mengakui survei rencana pembangunan jembatan tersebut memang didampingi lima kepala desa yang berada di seberang Batang Gadis.

Sementara Haris Ahmad,  warga Desa Hutarimbaru, mengatakan warga di desanya menyambut baik niat pemerintah untuk membangun jembatan yang melintasi badan Sungai Batang Gadis tersebut menjadi jembatan permanen. Namun, kata dia, mulai tahun 2015 kendala pembebasan lahan itu selalu dijadikan alasan tersendatnya membangun jembatan itu.

Sampai sekarang, Haris Ahmad dan warga lainnya tidak tahu berapa ukuran tanah yang layak dibebaskan untuk dijadikan lahan abutmen jembatan tersebut. “Kalau jelas ukuran tanah yang diperlukan, saya yakin masyarakat akan membantu mencarikan solusi untuk itu,” katanya.

Haris Ahkmad mengatakan dia dan lima warga desa yang ada di seberang Sungai Batang Gadis berharap agar pembangunan jembatan tersebut dibuat permanen. Sebab, menurut dia, jembatan gantung itulah yang paling dekat lokasinya dengan ibu kota kecamatan.

Namun, kondisi jembatan itu saat ini memprihatinkan. Puluhan tahun sudah warga mendambakan pembangunan jembatan itu. Soal pembebasan lahan, dia yakin akan ada soluisi apabila Dinas PUPR Madina bermusyawarah dengan warga lima desa.

Agar jembatan gantung tersebut tetap bisa dilalui warga, hampir dua kali dalam setahun warga bergotong-royong untuk memperbaiki papan titi gantung yang sudah kropos. Seperti dua hari lalu,  warga Hutarimbaru bergotong-royong untuk mengganti papan titi gantung yang sudah keropos dengan biaya swadaya warga.

Reporter: Lokot Husda Lubis

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...