Hak Cipta @Redaksi

Semangat Jemaah Indonesia Melontar Jumrah dan Mabit di Mina

jemaah-haji

Panyabungan, (Start News) Wajah-wajah lelah namun tetap semangat tergambar dari para jemaah Indonesia. Meski harus berjalan jauh, tidur di pinggir jalan, sampai kelelahan karena kurang istirahat, tetap dijalani demi menyempurnakan ibadah haji.
Setelah menjalani wukuf di Arafah pada Minggu, 11 September kemarin, para jemaah bergerak semua ke Muzdalifah. Menggunakan bus, sekitar ratusan ribu jemaah Indonesia melaksanakan mabit di sana sampai melewati tengah malam, mengambil kerikil untuk lontar jumrah lalu bergeser ke pemondokan Mina.

Di Mina, ada beberapa kelompok jemaah yang mendapat jadwal lontar jumrah aqabah lebih awal. Artinya, sebelum waktu terlarang untuk jemaah Indonesia pukul 06.00-10.30 Waktu Saudi, ada beberapa jemaah yang sudah melontar dinihari sampai fajar.
Pergerakan sebagian besar jemaah Indonesia baru mulai ramai siang menjelang sore dan malam. Ada beberapa yang melalui terowongan Moaisem, lalu lanjut naik ke lantai 3 untuk lempar jumrah aqabah. Jemaah lain ada yang melalui jalan King Fahd lalu melalui rute 206 dan masuk ke Jamarat.
Wajah-wajah sumringah jemaah terlihat saat menjalani wajib haji ini. Sepanjang jalan, mereka melantunkan talbiyah dan takbir. Di antara para jemaah ada yang masih berusia muda, namun tak sedikit juga yang berusia lanjut. Dalam sebuah barisan rapi dipimpin petugas dari maktab, mereka mengikuti alur menuju Jamarat dengan tertib.

“Alhamdulillah sudah lempar jumrah,” kata seorang jemaah wanita asal Jakarta sambil berdoa, pada hari Senin (12 September 2016).
Setelah itu, jemaah berputar balik menuju arah pemondokan maktab. Perjalanan itu tidak ditempuh dengan mudah. Sebab jarak antara pemondokan jemaah Indonesia yang reguler dengan jamarat itu cukup jauh. Lebih dari 3 kilometer, bahkan ada yang sampai lebih dari 5 kilometer.
Tak heran, sebagian jemaah yang jauh pemondokannya lebih memilih mabit di dekat jamarat, lalu melontar besok pagi setelah Subuh, dan kembali ke hotel. Ada juga yang kembali ke maktab setelah dua kali melontar agar punya waktu istirahat lebih banyak.

Tak ada fasilitas mabit untuk jemaah Indonesia di dekat jamarat. Karena itu, mereka mengisi ruang-ruang kosong di sisi jalan, trotoar, dan sisi-sisi bangunan. Beralaskan tikar, sajadah, dan alas lainnya mereka beribadah, sambil menunggu waktu melontar berikutnya tiba.
“Daripada pulang ke maktab jauh banget, mending di sini aja Mas, sambil menunggu Subuh,” tutur jemaah asal Makassar.
Untuk hari kedua melontar, jam larangan bagi jemaah Indonesia pukul 14.00 sampai 18.00 Waktu Saudi. Lalu untuk tanggal 12 Dzulhijah atau 14 September, para jemaah dilarang melontar pukul 10.30 sampai pukul 14.00 waktu Saudi.

Tim dari PPIH Arab Saudi juga sudah sering mengimbau agar para jemaah yang sakit atau tak kuat berjalan untuk lontar jumrah agar mewakilkannya pada jemaah lain. (mad/hri)

Sumber : detiknews.com

Manager Program & Pemberitaan : Hendra Ray

Admin : Ade

Komentar Anda

komentar

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...