Satgas PETI Madina, Aksi Nyata atau Sekadar Macan Kertas?
LANGKAH Pemkab Mandailing Natal (Madina) bersama Forkopimda membentuk Satuan Tugas Penanganan Pertambangan Tanpa Izin (Satgas PETI) memang patut diacungi jempol.
Langkah menyatukan kekuatan pemda, polisi, dan tentara untuk membenahi masalah lingkungan serta hukum boleh kita sebut niat baik yang sangat menyegarkan. Rasanya lega melihat semua unsur akhirnya duduk bersama di satu meja demi menyelamatkan alam Madina dari jamahan tambang liar.
Namun, kalau melihat struktur organisasi Satgas ini, rasanya cukup membuat dahi berkerut halus. Ada sub-satgas preventif, represif, hingga bantuan teknis. Begitu lengkap dan rapi, mirip struktur panitia acara perayaan yang siap menggelar hajatan besar.
Semoga saja banyaknya sub-satgas ini tidak membuat para petugas di lapangan sibuk saling tunjuk saat harus menindak penambang bandel. Kita tentu berharap Satgas ini menjadi pasukan super yang cepat bertindak, bukan malah melahirkan birokrasi baru yang panitia-nya lebih banyak daripada aksi lapangannya.
Penetapan tenggat waktu sosialisasi hingga tanggal 17 Agustus 2026 juga terasa sangat pas. Momentum Hari Kemerdekaan menjadi simbol yang manis untuk memerdekakan tanah Madina dari kerusakan lingkungan.
Pertanyaannya, apakah para penambang liar itu akan mendadak sadar dan pensiun hanya karena dipasangi papan imbauan?
Memang bagus mengedepankan pendekatan yang ramah dan manusiawi, tetapi jangan sampai keramahan ini malah dianggap sebagai lampu hijau bagi para penambang untuk mengeruk hasil bumi habis-habisan sebelum tenggat waktu penindakan tiba.
Upaya Satgas untuk tidak hanya menindak, tetapi juga membantu mengurus izin Wilayah Pertambangan Rakyat boleh jadi niat mulia yang patut didukung penuh. Jalur legal memang solusi terbaik agar warga tetap bisa mencari makan tanpa harus merasa dikejar-kejar petugas.
Kita tentu ingin melihat janji ini benar-benar terwujud dan berjalan cepat. Sebab, jika pengurusan izinnya memakan waktu berbelit-belit, bukan tidak mungkin para penambang akan memilih kembali ke cara lama yang serba instan.
Masyarakat Madina kini menanti bukti nyata dari komitmen ini. Kita ingin melihat aksi tegas yang dibarengi dengan solusi yang jelas bagi perekonomian warga.
Semoga Satgas PETI ini benar-benar menjadi taring yang ampuh untuk melindungi lingkungan. Bukan sekadar macan kertas yang gagah di naskah rapat, tetapi layu di medan penertiban. (*)

Comments
This post currently has no comments.