Atika: Pembukaan Jalan ke Perkebunan Rakyat Satu Solusi Penting

Panyabungan, StArtNews-Perkebunan rakyat merupakan salah satu lapangan usaha rakyat yang terbesar dalam struktur ekonomi Madina di sektor pertanian.

Bahkan, secara kalkulasi, perkebunan jauh lebih rill memakmurkan petani ketimbang sawah. Sebab, standar kepemilikan luas lahan sawah sejatinya adalah 2 hingga 3 hektar per kepala keluarga. Tetapi luas sawah itu tak bisa tercapai per kepala keluarga akibat luas lahan di desa-desa tak sebanding dengan jumlah keluarga petani.

Selain menggenjot laju pendapatan rakyat dari sawah yang sudah ada, pengembangan sektor perkebunan dan pembukaan lahan kebun mutlak disediakan untuk rakyat.

Demikian diungkapkan Calon Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Urammi Nasution, B.AppFin,MFin menjawab wartawan, Sabtu (5/12) di Panyabungan.

“Jika petani hanya memiliki 0,2-0,5 hektare sawah akan tetap sulit makmur. Bahkan banyak petani tak punya sawah, hanya berposisi penyewa lahan,” ungkap Atika.

Oleh karena itu, Atika melihat perkebunan merupakan solusi penting mengalihkan pendapatan utama petani dari sawah. Karena, 3 hektare sawah itu setara dengan 1,5 hektare perkebunan dari sisi perolehan hasil. Maka dari itu sektor perkebunan harus dipacu untuk menjadi sumber pendapatan utama rakyat.

“Hal yang pertama yang harus dilakukan adalah pembukaan jalan ke lokasi-lokasi perkebunan,” katanya.

Hal ini tertuang di dalam misi Sukhairi-Atika pada poin 1 yakni “Meningkatkan ekonomi di bidang agrikultur, industri dan pariwisata berlandaskan kearifan lokal guna terwujudnya kebijakan yang inklusif (menyeluruh) dan berkelanjutan.

Bahkan secara geografis maupun sosio ekonomi, perkebunan justru seharusnya menjadi salah satu solusi utama meningkatkan pendapatan mayoritas penduduk Mandailing Natal (Madina).

Secara geografis, wilayah Mandailing Julu dan Mandailing Godang atau dari Muarasipongi hingga Siabu; dari Lingga Bayu hingga Nagajuang, struktur ekonomi wilayahnya adalah kawasan perkebunan.

Tetapi, rakyat tidak memperoleh dukungan penting dari pemerintah daerah sehingga lapangan usaha perkebunan belum mampu secara signifikan mengangkat rakyat ke tingkat kemakmuran ekonomi.

Salah satu indikator tidak adanya perhatian itu adalah minimnya akses jalan ke lokasi-lokasi perkebunan rakyat.

“Infrastruktur berupa pembukaan-pembukaan jalan ke lokasi-lokasi perkebunan rakyat mutlak dilakukan. Keberadaan jalan yang lebar adalah faktor utama agar sektor perkebunan bisa bergairah,” sebut Atika.

Tim Redaksi StArtNews

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi