Linda, Ibunda Almarhumah Khayla Zahra, Kembali Dilarikan ke Rumah Sakit

Kondisi Suratmi di kediamannya

Kondisi Linda di kediamannya

Panyabungan, StArtNews-Linda (38 tahun) yang sebelumnya menjadi korban yang turut dirawat di rumah sakit karena menghirup gas beracun H2S milik PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), terjadi pada 25 Januari 2021 lalu, kembali dilarikan ke rumah sakit setelah kondisi tubuhnya memburuk dan mengalami mual-mual.

Linda merupakan salah satu korban selamat atas peristiwa gas beracun di perusahaan listrik tenaga panas bumi (PLTPB) PT SMGP yang beroperasi di Desa Sibanggor Julu, Puncak Sorik Marapi.

Linda ketika dihubungi StArtNews beberapa waktu lalu menceritakan ia dan anaknya, Khayla Zahra, berada sekitar 300 meter dari Wallpad T milik PT SMGP, tempat malapetaka yang menewaskan t orang itu terjadi. Meski ia selamat, tapi harus kehilangan anaknya yang baru berusia 5 tahun.

Lebih lanjut, Linda memaparkan pada hari naas itu ia membawa Khayla dan meninggalkannya di sopo saba (dangau-red) untuk bekerja di ladang. Khayla saat itu bersama Yusniar (3 tahun) anak Fatimah. Keduanya meninggal karena menghirup gas beracun tersebut.

Selain Linda dan Kayla Zahra (4), ada beberapa orang yang berada di lokasi yang disebut warga sebagai “Ladang Kematian”, yakni Suratmi (46) bersama anaknya Syahrani (15), serta Fatimah (31) yang juga membawa anaknya yang masih balita, Yusniar (3).

Kepala Desa Sibanggor Julu, Awaluddin ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa Linda kembali dibawa ke rumah sakit.

“Ya,benar. Dipastikan dia (Linda) dibawa kembali tadi malam ke Rumah Sakit Umum Panyabungan karena dia mengalami mual,” kata Awaluddin, Sabtu (13/2).

Kades menyebutkan, setelah mendapatkan perawatan medis, kondisi Linda saat ini baru sekedar biasa diajak bicara.

“Kita doakan, ya, agar semuanya baik- baik saja, tadi saya tanya baru sekedar membaik bilang beliau,” ujarnya.

Lebih Jauh Kades menyampaikan, saat ini ada sebanyak 52 orang tim ahli dari perusahaan meninjau ke Desa Sibanggor Julu untuk memastikan kondisi psikologi warganya serta untuk memastikan keberadaan gas beracun itu di udara.

“Tadi pun ada 52 orang, katanya dari Medan, supaya rasa was-was masyarakat saya bisa membaik lagi dan kita usahakan agar bisa seperti sebelumnya,” jelas Kades.

Sehari setelah peristiwa malapeteka itu terjadi,usai salat Zuhur, dari Masjid Nurul Iman warga mengiringi 5 jenazah korban gas beracun SMGP ke TPU Desa Sibanggor Julu.

Dua balita yang turut menjadi korban, Yusniar dan Kayla Zahra dimakamkan secara berdampingan.

Aswan Suhadi, ayah Yusniar terlihat begitu terpukul, menahan derai air mata saat menggendong jasad putrinya menuju pemakaman. Begitu pun dengan Hambali, ayah dari Khayla Zahra.

Berjarak beberapa meter dari kuburan kedua balita itu, tiga korban dewasa lainnya dimakamkan secara berdampingan. Ada Dahni, dan Suratmi yang berdampingan dengan putrinya Syahrani (15).

Di pemakaman, Ismail, seorang pria tengah baya terduduk lesu berusaha ikhlas. Namun, tatapannya hampir tak pernah lepas dari gundukan tanah merah, makam istri dan anaknya. Hingga prosesi doa selesai dan para pelayat beranjak, Ismail masih merapikan beberapa tumpukan batu dan tumbuhan di atas dua makam itu.

TPU ini berjarak seperlemparan batu dengan persawahan yang menjadi TKP beberapa petani keracunan gas dari Wallpad milik PT SMGP. Sejajar dengan pemakaman ini, ada permukiman yang juga jadi radius jangkauan gas beracun, hingga beberapa warga juga mengalami mual hingga dirawat sesaat akibat peritiwa malang itu.

Reporter: Hasmar Lubis
Editor: Hanapi Lubis

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...

Hak Cipta @Redaksi