Rawan Terserang Hama, Petani Sumut Enggan Gunakan Benih Padi Hibrida

Meski potensi produktivitas yang dihasilkan jauh lebih tinggi, namun penggunaan benih padi hibrida di Sumatera Utara (Sumut) sejauh ini masih sangat rendah. Petani banyak menggunakan varietas unggul baru (VUB).

“Memang benar padi hibrida mempunyai kelebihan produksi sangat tinggi dan mempunyai kualitas beras yang pulen dan wangi. Tetapi apakah mampu berproduksi tinggi jika memiliki bermacam-macam kelemahan,” kata Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Sumut, Khadijah El Ramija, Rabu (11/7/2018), di Medan.

Walaupun tertulis di kemasannya tahan berbagai macam penyakit, kata Khadijah, namun ternyata di lapangan tidaklah demikian.

Sebagai bukti, kata dia, banyak padi hibrida yang ditanam petani terserang hawar daun bakteri (kresek), hawar pelepah dan blast. Padi hibrida juga terbukti sangat rawan terhadap serangan hama wereng, sundep atau beluk dan ulat.

Selain itu, padi hibrida membutuhkan pemupukan yang lebih banyak dibanding varietas unggul lokal, sehingga menambah biaya produksi bagi petani.

“Walaupun mempunyai bulir malai yang banyak hingga 400, tetapi seringkali bulir tersebut tidak terisi semua. Kadangkala pengisian bulir padinya juga tidak bisa penuh,” jelas Khadijah.

Dijelaskannya, di samping itu padi hibrida juga kurang memiliki adaptasi lingkungan yang tinggi, sehingga hanya spot-spot lokasi tertentu yang cocok untuk penanaman padi hibrida.

“Walaupun varietas tertentu tertulis tahan kering dan cocok untuk gogorancah tetapi kehebatanya tidak pernah lebih dari varietas situbagendit dan IR 64. Jadi banyak sekali kelemahannya. Dan, itulah yang membuat petani enggan menggunakan varietas padi hibrida,” kata Khadijah.

Kelemahan lainnya yang membuat petani belum mau memakai benih hibrida karena benih padi hibrida tidak bisa ditanam kembali oleh petani. Hal tersebut akan menjadikan monopoli pasar bagi produsen benih tersebut.

Belum lagi harga benih padi hibrida jauh lebih mahal sekitar Rp 45.000 per kg dibanding variatas unggul lokal yang hanya sekitar Rp 5.000 an per kg. Ini akan membengkakkan pengeluaran petani.

“Dari kelemahan-kelemahan itu, saya kira bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah dan Dinas Pertanian dalam hal pemberian bantuan benih bagi petani untuk kebijakan program-program yang lain. Petani kita belum bisa menerima teknologi yang rumit dan ribet karena mengingat SDM petani kita belum tergantikan dengan generasi muda,” jelasnya.

Jadi penggunaan benih padi hibrida, kata dia, hanya berkisar dua sampai tiga persen dan itupun karena ada bantuan dari pemerintah saja.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut M Azhar Harahap. Menurutnya, petani belum mampu menguasai teknologi benih padi hibrida.

“Kalaupun ada yang menggunakannya, kemungkinan karena petani itu mendapat bantuan benih atau sebagai ujicoba saja,” kata Azhar.

Hal itu berbanding terbalik dengan jagung. Petani di Sumut, bisa dibilang sudah 100% menggunakan benih jagung hibrida dalam setiap budidayanya.

“Teknologinya sangat berbeda antara tanaman padi dengan jagung,” kata Azhar

Sumber : Medanbisnisdaily.com

Komentar Anda

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Scroll To Top
Request Lagu
Loading...