Ini Baru Wakil Rakyat Paten!
BIASANYA kalau kita dengar kata ‘Reses Anggota Dewan’, yang langsung terbayang di otak pasti acara formal yang ujung-ujungnya cuma bagi-bagi kue kotak, foto-foto, sama bahas aspal jalan yang bolong. Tapi beda cerita sama Reses II Kak Zubaidah Nasution di Aula Desa Jambur Padang Matinggi, Kecamatan Panyabungan Utara, Sabtu (16/5/2026) lalu. Acara yang harusnya bahas semen sama batu, malah berubah total jadi panggung curhat massal warga yang udah pening kepalanya gara-gara narkoba makin mengintai kampung mereka.
Gak main-main, suasana di dalam aula langsung penuh emosi jiwa. Sekitar 100 orang yang datang—mulai dari alim ulama sampai emak-emak—mukanya udah kek orang mau nagih utang, tegang dan diselimuti kecemasan kolektif. Urusan bangun infrastruktur fisik yang biasanya jadi menu wajib reses, langsung digeser sejenak demi menyelamatkan masa depan anak-anak.
Kepala Desa, Pak Khoirul Anwar Nasution, bahkan sampai blak-blakan macam gak makan beberapa hari, memohon supaya Srikandi Golkar ini menjembatani ketakutan warga langsung ke pucuk pimpinan penegak hukum, Kapolres Madina AKBP Bagus Priandy.
Ditambah lagi curhatan Ibu Berlian Hasibuan yang naluri keibuannya langsung keluar, meminta kalau ada anak yang jadi korban, tolonglah direhabilitasi biar sembuh, jangan langsung dicampakkan ke penjara yang malah bikin trauma. Cocok kelen rasa?
Untungnya, Kak Zubaidah ini bukan tipe wakil rakyat yang cuma datang, duduk, diam, tengok jam, terus pulang bawa proposal. Sebagai sesama ibu, beliau langsung tanggap dan mukanya ikut prihatin. Alumni IISIP Jakarta ini otaknya langsung jalan cepat meluruskan pemahaman warga soal hukum negara kita yang sebenarnya penyayang.
Beliau tegaskan, kalau murni bertindak sebagai korban atau pemakai—bukan bagian dari sindikat mafia—ketentuan hukum kita itu mengarahkannya ke proses rehabilitasi medis dan sosial biar bisa tobat dan sembuh.
Tapi ingat ya, aturan ini gak berlaku buat para perusak moral di balik layar. Mantan bendahara Ikatan Mahasiswa Tapanuli Selatan (IMA Tapsel) di Jakarta ini langsung pasang muka garang dan mendesak aparat kepolisian untuk terus bergerak aktif mengejar, menangkap, dan menyikat habis bandar serta pengedar sampai ke akar-akarnya. Jangan kasih kendor, Kak!
Dinamika reses makin seru pas Pak Camat Panyabungan Utara, Adi Melperi, ikutan ‘curhat colongan’ soal dompet anggaran desa tahun 2026 yang makin menipis gara-gara adanya efisiensi program pusat, termasuk urusan program KDMP. Alhasil, ruang gerak desa buat mendanai fisik jadi terbatas.
Belum lagi Pak Ali Umar Batubara yang ikutan pusing memikirkan nasib lahan sawit buat anak yatim, plus minta kehadiran penyuluh pertanian biar petani lokal modal cekak gak gaptek-gaptek amat mengelola lahan.
Mendengar urusan perut dan masa depan warga ini, Kak Zubaidah gak pakai lama. Spontan, beliau langsung mengeluarkan tali asih di tempat buat pengurus anak yatim desa setempat.
Nah, yang paling bikin warga bersorak adalah pas membahas bantuan bibit sawit dari Dinas Pertanian Madina yang katanya mau cair pekan ini, tapi masih misterius hilalnya. Kak Zubaidah langsung pasang badan menggunakan fungsi pengawasannya.
“Selesai reses ini, saya akan langsung menelepon pihak Dinas Pertanian untuk melakukan penegasan agar bantuan bibit tersebut bisa segera disalurkan tanpa hambatan,” kata Kak Zubaidah.
Bayangkan kelen, belum lagi kering keringat warga siap tepuk tangan riuh, orang dinas udah mau dideadline lewat telepon sama Kak Zubaidah. Bisa dipastikan langsung ketar-ketir lah itu orang kantor dinasnya menerima telepon sakti.
Sebagai penutup dari rangkaian dialog interaktif yang campur aduk antara tegang, sedih, dan haru itu, Kak Zubaidah ngasih bonus pesan hangat yang bikin hati adem. Beliau bilang, fungsi keterwakilan seorang anggota Dewan itu gak boleh dikotak-kotaki cuma sama formalitas waktu reses aja.
Beliau menegaskan kalau pintu komunikasi harus tetap menyala kapan saja tanpa perlu menunggu momen reses berikutnya bergulir. Malah, pintu rumah kediamannya yang berada di Kelurahan Sipolupolu akan selalu terbuka lebar buat warga yang mau datang berdiskusi, menerima keluh kesah, atau sama-sama mencari solusi konkret demi kemajuan masyarakat. Asal jangan datang tengah malam cuma mau numpang minta korek api aja, ya kan.
Sikap peduli, responsif, tegas, dan langsung eksekusi macam Kak Zubaidah Nasution ini adalah contoh standar tinggi buat seluruh anggota legislatif di Kabupaten Madina. Kalau semua wakil rakyat punya pergerakan se-paten dan se-gercep ini, jangankan urusan pertanian, urusan menyikat bandar narkoba pun pasti bisa kita selesaikan sambil tersenyum.
Mantap kali, Kak Zubaidah! Melanjutkan pengabdian dengan hati yang tulus dan bikin warga tenang! (*)

Comments
This post currently has no comments.